Get Adobe Flash player

ads
andy asrul Zany ATM KONDOM"=LEGALISASI SEKS BEBAS "ATM KONDOM"=LEGALISASI SEKS BEBAS'' Belumlah reda perdebatan seputar rencana Pemerintah untuk melakukan legalisasi (pe... 5

ATM KONDOM"=LEGALISASI SEKS BEBAS

"ATM KONDOM"=LEGALISASI SEKS BEBAS''

Belumlah reda perdebatan seputar rencana Pemerintah untuk melakukan legalisasi (pengesahan) aborsi atau pengguguran kehamilan melalui revisi UU Kesehatan, yang dikhawatirkan oleh sejumlah kalangan hanya akan semakin menyuburkan praktik pergaulan bebas, kini kita dibombardir oleh perdebatan seputar agenda Pemerintah melalui BKKBN untuk melaksanakan program "kondomisasi", yang kali ini antara lain diwujudkan dengan pendirian sejumlah ATM (Anjungan Tunai Mandiri/Automatic Teller Machine) Kondom di sejumlah kota besar dan daerah, di samping pembagian kondom secara cuma-cuma alias gratis kepada sejumlah kalangan masyarakat.
Sampai saat ini BKKBN menyediakan 200.000 gross kondom gratis (1 gross berisi 144 kondom), yang sekitar 80%-nya telah dikirim ke semua provinsi. Di Bogor Jawa Barat, misalnya, pembagian kondom gratis telah dilakukan bertepatan dengan Hari AIDS se-dunia bulan Desember lalu. Sebanyak 282 boks kondom dibagi-bagikan secara gratis oleh Dinas Kesehatan bekerjasama dengan Global Pant serta Dinas Informasi Kepariwistaan dan Kebudayaan Kota Bogor kepada hotel, losmen, serta wisma. Kondom gratis juga dibagikan kepada kelompok waria dan kaum gay di Kota Bogor. Disebutkan, pembagian kondom itu juga sesuai dengan keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia melalui Surat keputusan Skep 68/MEN/IV/2004 tentang Pencegahan dan Penanggulangan HIV AIDS di tempat kerja. (Media-indonesia.com, 26/12/2005).
Di samping itu, Pemerintah melalui BKKBN telah dan sedang berencana mendirikan ATM Kondom di Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, NTB, Lampung, Riau, Papua dan Papua/Jaya Irian Barat. Khusus di Jawa Barat, rencananya dipasang 10 ATM Kondom, yang salah satunya di tempat pelacuran sekelas Saritem, sebagai upaya meningkatkan partisipasi pria terhadap KB sekaligus menekan penyakit menular seksual termasuk HIV/AIDS. (Bkkbn.go.id, 27/11/2005).
ATM Kondom yang dibangun oleh BKKBN ini merupakan sumbangan dari sebuah produsen kondom. Cara kerja alat ini mirip dengan sebuah telepon umum; setiap calon pembeli kondom diwajibkan untuk memasukkan tiga keping uang logam Rp 500,- untuk mendapatkan tiga kotak kondom dengan tiga jenis rasa. (Beritajakarta.com, 19/12/2005).
Pemerintah punya alasan. Program "kondomisasi" yang diwujudkan dengan pembagian kondom gratis dan pendirian sejumlah ATM Kondom adalah dalam rangka mencegah penyebaran virus HIV/AIDS. Untuk itu, BKKBN terus-menerus melakukan kampanye penggunaan kondom yang dikenal dengan sebutan "Promosi Kondom Dual Proteksi". Intinya, selain mencegah kehamilan, kondom juga dipromosikan dapat mencegah penularan HIV/AIDS. "Tujuan kami jelas, untuk mencegah penularan HIV/AIDS," ujar Kepala BKKBN Pusat Dr. Sumarjati Arjoso SKM dalam peringatan Hari AIDS Sedunia beberapa waktu lalu. (Cybermed.cbn.com, 4/12/2005).
Tak urung, sejumlah ulama di Tanah Air telah mengajukan penolakannya terhadap keberadaan ATM Kondom. MUI Jawa Barat dan PP Persis, misalnya, kembali menegaskan sikap penolakannya terhadap keberadaan ATM Kondom, karena khawatir disalahgunakan untuk pelacuran; sebab sarana itu bisa bebas diakses siapa saja. Pernyataan sama juga dikemukakan Kabid Tarbiyah Pengurus Pusat (PP) Persis, Dr. H.M. Abdurrahman, yang mendampingi Kiai Hafizh. (Pikiran Rakyat, 5/1/2006).

Fakta Penyebaran HIV/AIDS
Data United Nations Programme on HIV/AIDS (UNAIDS) menyebutkan, pada akhir tahun 2004, terdapat 39,4 juta orang dengan HIV/AIDS di seluruh dunia. Sebanyak 17,6 juta (45%) adalah perempuan dan 2,2 juta adalah anak-anak berusia kurang dari 15 tahun. Adapun Indonesia yang berpenduduk 220 juta jiwa, hingga akhir September 2005 sudah memiliki 8.251 kasus HIV/AIDS, terdiri dari 4.065 kasus HIV dan 4.186 kasus AIDS. (Cybermed.cbn.com, 4/12/2005).
UNAIDS melaporkan bahwa Indonesia memasuki tahap awal epidemi (wabah) AIDS. Menurut lembaga itu, penyebaran tercepat penyakit itu melalui pertukaran jarum suntik pada pengguna narkotika, serta pelacur dan para pelanggannya. (Tempointeraktif.com, 28/11/2005).
Menurut Armyn Nurdin, Wakil Ketua Komisi Penanggulangan AIDS, banyak lembaga dan para pakar telah memperkirakan skenario terburuk jika Indonesia tidak dapat menanggulangi penyakit ini. "Tahun 2010 diperkirakan 5 hingga 10 juta orang akan terinfeksi HIV/AIDS," kata Armyn. Sejak kasus pertama di Bali 18 tahun lalu, kata Armyn, peningkatan jumlah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Indonesia sangat cepat. Hingga akhir September lalu, Departemen Kesehatan melaporkan 8.251 ODHA yang terdeteksi, sebanyak 4.065 orang terinfeksi HIV dan 4.186 telah dinyatakan AIDS. "Kebanyakan adalah PSK (pekerja seks komersil)," ujarnya. (Tempointeraktif.com, 18/11/2005).

Logika Keliru
Katakanlah niat Pemerintah benar, program "kondomisasi" adalah didasarkan pada alasan untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS. Namun demikian, alasan seperti ini tidak sepenuhnya logis karena beberapa hal. Pertama: Akar penyebab penyebaran HIV/AIDS adalah seks bebas (pelacuran, gonta-ganti pasangan, pergaulan bebas, homoseksualitas/lesbianisme). Karena itu, perang terhadap seks bebas inilah yang seharusnya dilakukan Pemerintah, bukan dengan program "kondominasi" yang lebih banyak ditujukan kepada pasangan yang bukan suami-istri.
Kedua: Program "kondomisasi" belum terbukti ampuh dalam mengurangi penyebaran HIV/AIDS. Di negara-negara Barat, meski program serupa sudah lama berlangsung, penyebaran HIV/AIDS di sana tetap tinggi dan terus meningkat.
Ketiga: sebagaimana legalisasi (pengesahan) aborsi, program "kondomisasi" yang antara lain diwujudkan dengan pendirian sejumah ATM Kondom hanya akan menyuburkan perilaku seks bebas, khususnya di kalangan anak-anak muda. Dengan berbagai kemudahan mendapatkan kondom, anak-anak muda akan merasa lebih "aman" melakukan seks bebas. Para remaja putri, misalnya, yang terjerumus ke dalam pergaulan bebas tidak akan lagi merasa khawatir hamil atau tertular HIV/AIDS, karena toh kondom—yang dipropagandakan sebagai dapat mencegah HIV/AIDS, di samping mencegah kehamilan—kini mudah mereka dapatkan. Bahkan boleh jadi, anak-anak muda yang tadinya tidak pernah melakukan seks bebas pun akan tergoda dan mulai coba-coba melakukan seks bebas dengan berbekal kondom yang sudah bisa didapatkan secara mudah dan bebas.
Keempat: Sebagian pakar kedokteran masih meragukan efektivitas kondom dalam mencegah HIV/AIDS. Alasannya, pori-pori karet lateks yang menjadi bahan pembuatan kondom adalah 0,003 mm, sedangkan ukuran virus AIDS adalah 0,000001 mm. Perbandingan keduanya adalah seperti pintu gerbang yang
besar dengan seekor tikus. Logikanya, "tikus'' dengan sangat mudah bisa mondar-mandir di "pintu gerbang" yang sangat besar itu tanpa halangan sedikit pun. Memang, konon bahan lateks untuk kondom dibuat lebih baik sehingga pori-porinya bisa lebih kecil daripada virus AIDS. Namun, dengan adanya tekanan saat dipakai, atau akibat gesekan, kondom tetap saja bisa kebobolan. Apalagi sejak awal kondom memang hanya efektif untuk mencegah masuknya sperma ke dalam rahim, dan belum terbukti efektif untuk mencegah berbagai penyakit kelamin, apalagi HIV/AIDS yang sampai saat ini belum diketahui serum untuk mengatasinya.

Liberalisasi Budaya Barat (Seks Bebas)
Sebagaimana legalisasi aborsi, program "kondomisasi" disinyalir hanya merupakan alat untuk menyuburkan liberalisasi budaya Barat, khususnya seks bebas, di Indonesia. Program ini seolah berjalan seiring dengan semakin bebasnya pornografi dan pornoaksi di tengah-tengah masyarakat kita. Kita tahu, VCD porno, majalah porno, dan film-film/sinetron semi porno sudah lama menyapa masyarakat. Pemerintah pun seolah membiarkan fakta-fakta tersebut. Bahkan RUU tentang Pornografi dan Pornoaksi pun sampai kini urung disahkan. Sekarang, bermunculan ATM Kondom. Kloplah sudah. Jika sudah begitu, bagaimana masyarakat tidak menyimpulkan bahwa semua itu pada akhirnya hanya akan mengarah pada semakin liberalnya seks bebas di tengah-tengah masyarakat kita, khususnya generasi muda.

Wahai kaum Muslim:
Kita harus berani mengatakan, bahwa gagasan ATM Kondom secara tidak langsung sama artinya dengan menyuruh atau membenarkan orang berbuat zina. Kita jangan sampai terjebak dengan program "kondomisasi" melalui ATM. Sebab, cara seperti itu tidak akan pernah efektif mencegah penyebaran HIV/AIDS. Kita justru harus berani mengatakan, bahwa wabah penyebaran HIV/AIDS adalah akibat seks bebas yang memang telah menjadi budaya Barat sekular, yang sengaja tengah disebarkan ke Dunia Islam, bukan karena tidak digunakannya kondom dalam hubungan seks. Di Dunia Barat, para orangtua tidak pernah melarang anaknya untuk melakukan hubungan seks bebas, dengan catatan, harus menggunakan kondom atau sejenisnya. Sebab, seks bebas memang telah menjadi bagian dari gaya hidup Barat sekular. Gaya hidup seperti ini pula sesungguhnya yang ingin disebarluaskan oleh mereka ke Dunia Islam. Caranya antara lain dengan dibukanya lebar-lebar pintu pornografi dan pornoaksi, legalisasi aborsi, dan program "kondomisasi"—termasuk pendirian sejumah ATM Kondom—yang lebih banyak ditujukan kepada mereka yang bukan pasangan suami-istri.

Wahai kaum Muslim:
Ingatlah, maraknya pornografi dan pornoaksi serta seks bebas sekarang ini adalah akibat diterapkannya sistem sekular, yang mengadopsi demokrasi dan HAM, yang memang telah menjamin kebebasan manusia dalam segala bidang, khususnya kebebasan berperilaku. Karena itu, sudah selayaknya umat Islam mencabut sistem sekular seperti saat ini, yang nyata-nyata telah menimbulkan banyak persoalan kemanusiaan. Kita harus sadar, bahwa sistem sekular telah gagal dalam menyelesaikan berbagai persoalan kemanusiaan, termasuk mewabahnya HIV/AIDS. Karena itu, sudah saat kaum Muslim segera kembali pada sistem kehidupan islami; sudah saatnya kita kembali pada tatanan kehidupan yang didasarkan pada pada syariat Islam. Sebab, hanya Islamlah satu-satunya solusi bagi seluruh persoalan kehidupan manusia; hanya sistem hukum Islamlah yang terbaik bagi umat manusia. Renungkanlah kembali firman Allah SWT:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki. Siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS al-Maidah [5]: 50).

Karena itu, marilah kita segera mematuhi seruan Allah SWT, sebagaimana firman-Nya:

اسْتَجِيبُوا لِرَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لاَ مَرَدَّ لَهُ مِنَ اللهِ مَا لَكُمْ مِنْ مَلْجَأٍ يَوْمَئِذٍ وَمَا لَكُمْ مِنْ نَكِيرٍ
Patuhilah seruan Tuhan kalian sebelum datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak kedatangannya. Kalian tidak memperoleh tempat berlindung pada hari itu dan tidak pula dapat mengingkari (dosa-dosa kalian). (QS asy-Syura [42]: 47). []

KOMENTAR AL-ISLAM:
Demokrasi dan Islam Moderat Jadi Modal Indonesia (Republika, 07/1/2006)
Jadikanlah syariat Islam sebagai modal, bukan demokrasi atau apapun.

Related Posts On artikel islam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar


Copyright © Wawasan Ipteks

Sponsored By: Free For Download Template By: Fast Loading Seo Friendly Blogger Template